INONG

Oleh : Suraiya Kamaruzzaman

Direktur Eksekutif Flower Aceh.

Tulisan ini pernah dipublikasikan oleh Koran Mingguan Aceh Ekspres Feb 14-22, 2000. Judul dirubah redaksi menjadi Perempuan Aceh ingin “merdeka”

Ketika  kata-kata Inong (baca: perempuan Aceh) di sebut, maka yang akan muncul di benak seseorang adalah nama besar Cut Nyak Dien, Cut Mutia, atau Kemala Hayati.  Tak banyak orang  yang mengingat Ratu Taj’Alam Safiatuddin Syah. Seorang Inong yang telah  memerintah Aceh dari tahun 1641 – 1675. Ratu yang sangat terkenal itu telah berhasil membawa pembaharuan dalam pemerintahan Aceh serta memperluas pemahaman demokrasi sebagai satu-satunya pemimpin yang pernah memikirkan hal tersebut pada zaman itu. Dan Dia “INONG ACEH.”.  Safiatuddin selalu mengupayakan hukum “tidak mengenyampingkan”  perempuan. Suatu hal yang kini menjadi impian bagi Inong di Aceh. Ratu yang pertama sekali menganggap posisi Inong sama pentingnya dengan Agam. Sehingga dalam “DPR-nya” Ratu Safiatuddin, sepertiga anggotanya terdiri dari Inong.

Muhammad Said dalam bukunya “Aceh Sepanjang Abad” menganggap Ratu Safiatuddin adalah seseorang yang mempunyai kebijaksanaan dan kemampuan yang luar bisa. Hal yang menarik, Ratu Safiatuddin adalah seorang “Negarawan”, bukan militer. Sayang, tentang kebijaksanaannya belum pernah luas menjadi perhatian, mungkin karena dia seorang Inong, mungkin pula karena kebesaran kerajaan Ayahnya tidak berhasil dicapainya kembali. Tetapi Safiatuddin bukan saja telah berhasil mengatasi ujian berat untuk membuktikan kecakapannya memerintah tidak kalah dengan laki-laki. Tetapi juga berhasil mengadakan pembaharuan dalam pemerintahan, memperluas pengertian demokrasi yang saat itu dan mungkin juga sampai kini kurang disadari oleh kaum laki-laki sendiri …….

Tetapi itu bagian dari sejarah. Sekitar 500 tahun yang lalu. Saat ini kalimat “Kami selalu menghargai Inong Aceh”,  dengan pembuktian sejak jaman dulu perempuan sudah di akui kepemimpinannya dan menunjukkan contoh beberapa nama Inong di masa lalu (Cut Nyak Dien, Laksamana Mala Hayati), menjadi alat yang sering di pakai oleh berbagai pihak dalam segala level untuk berbagai kepentingan. Menghargai Inong menjadi jargon dalam kampanye pemilu, atau  bahasa pembungkam ketika Inong mempertanyakan hak dan posisinya. Kenyataannya,  benarkah demikian? Benarkah Inong di Aceh mendapat tempat yang setara? Bagaimana masih berani mengatakan bahwa “Kami sangat menghargai dan menganggap setara dengan Inong”, sementara dalam sebuah forum yang diadakan untuk mencari solusi penyelesaian konflik di Aceh,  Inong yang di undang hanya 0,5 % dari total peserta, padahal dari total  penduduk Aceh Inongnya terdiri dari 52% ?.

Buka koran harian lokal (serambi Indonesia) misalnya. Banyak sekali berita tentang Inong. Tetapi berita tentang apa? Inong yang jadi korban, Inong yang jadi pesakitan, Inong yang selalu menjadi sasaran kekerasan. Pada masa pemberlakuan DOM di Aceh, Media juga memuat  isi beritanya berbagai bentuk kekerasan domistik dan publik yang korbannya Inong. Seorang gadis cilik berusia 8 tahun dari Langsa, ia di perkosa tetangganya berumur 53 tahun (2/4/94); Lela (14) tahun,  di perkosa kakeknya (43 tahun) di Aceh besar (16/5/96); Di Baktia, seorang pembantu rumah tangga, dihamili majikan, di  paksa menggugurkan kandungannya dan dipaksa menikah dengan seseorang (30/9/96); Salbiah (35 thn) dari Lhoksukon di perkosa dan di bunuh oleh pacarnya (93/9/97). Ini hanya beberapa contoh kasus dari begitu banyak kasus ataupun penderitaan lainnya.

Kata “kejam” tidak cukup untuk melukiskan betapa buruknya perlakuan Agam (yang sebagian di kenal atau sering di dengung-dengungkan sebagai pelindung)  terhadap Inong. Lalu …buka lagi koran harian Serambi Indonesia menjelang dicabutnya DOM dan setelah dicabutnya DOM (awal tahun 1998 s/d awal 1999).  Kali ini berita yang disungguhi adalah Inong-Inong dengan air mata berlinang,  mulai membeberkan luka yang mereka sandang dan bawa seumur hidup. Mereka di perkosa, di setrom di payudara dan vaginanya, anaknya di culik, suami dan keluarganya di bunuh. Kali ini pelakunya tidak tanggung-tanggung. Militer…… Yang seharusnya menjaga keamanan dan melindungi Inong dari serangan negara lain. Justru membunuh dan memerangi mereka.

Kata “ biadab” juga tidak cukup untuk menunjukkan rasa marah dan luka hati. Penderitaan Inong ternyata belum berakhir juga. DOM di cabut, tidak juga membawa keamanan dan ketentraman. Akibat sweeping yang di gelar aparat serta semakin tajamnya konflik antara aparat dengan sipil bersenjata, membuat Inong-inong tidak lagi tentram tinggal di rumah dan desa sendiri. Berbondong-bondong mereka pergi dan tinggal bersama di tempat yang di harap cukup aman dan mau bersahabat dengan mereka. Mengungsi………… Gurat luka sewaktu pemberlakuan DOM belum hilang. Kini darah sudah mengalir lagi, wajah-wajah Inong yang lelah dan gurat putus asa merupakan pemandangan tidak asing  di kamp-kamp pengungsian.

Inilah realita yang di hadapi Inong sekarang. Penghargaan, kesetaraan, kesempatan……hanyalah impian bagi kaum Inong. Bahkan di tengah-tengah konflik yang berkepanjangan, di mana untuk merencanakan dan melaksanakan perang di putuskan dan kemudian dilakukan oleh para Agam. Inong hanya jadi korban. Mereka tidak pernah di ajak untuk bicara. Mereka tidak pernah di tanya …”Apa sebenarnya keinginan Inong Aceh?” Yang ada hanya klaim dari kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu pula. Seluruh rakyat Aceh menginginkan a, atau b. Tanpa pernah mempertegas rakyat yang mana? Ikutkah Inong juga di hitung? Atau……jangan-jangan Inong tidak dianggap pula sebagai rakyat, sehingga dianggap tidak perlu untuk bertanya apa suara Inong….

Ketika berbincang dengan Inong-inong di pengungsi, dengan pipi basah tetapi sorot mata penuh harapan mereka mengatakan. Kami ingin merdeka. Merdeka dari rasa takut, merdeka dari penindasan, merdeka dalam berfikir. Kami ingin anak kami bisa sekolah dengan tenang. Kami ingin tinggal di rumah, tanpa takut tengah malam ada yang mengetuk pintu lalu menjemput anak atau suami yang kemudian di temui jadi manyat, atau hilang. Kami hanya ingin hidup damai……Harapan yang begitu indah..dan sangat sederhana. Inong hanya ingin damai….Lalu, bagaimana cara mengetuk hati para Agam bahwa perang membawa penderitaan bagi Inong yang nota bene merupakan ibunya? Istrinya? Adik dan kakaknya? Atau anaknya? Akankah Inong selalu menjadi korban untuk sebuah kekuasaan yang menjadi rebutan sebagian besar para Agam?

Mari Inong Aceh……Sudah cukup air mata, penderitaan dan perang yang berkepanjangan. Korban nyawa dan harta sudah tidak terhitung.  Kita bergandengan tangan, untuk bersama-sama menyuarakan keinginan kita. Bahwa sebagai 52 % dari jumlah penduduk Aceh kita punya hak untuk ikut terlibat dan memutuskan penyelesaian konflik Aceh. Kita mau damai. “Kita tidak mau segala bentuk kekerasan terjadi di Aceh.  Kita mau damai, aman dan makmur”.

One response to “INONG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s