S U M I A T I

Oleh: Suraiya Kamaruzzaman

Direktur Eksekutif Flower Aceh

Artikel ini pernah publikasikan di koran Mingguan  Aceh Ekspres, 17 – 23 April  2000.

Ketika reformasi mulai bergulir di Indonesia, Aceh merupakan salah satu daerah yang ikut merasakan dampaknya secara langsung. Setelah Suharto lengser ke prabon, “Cabut DOM” menjadi isu bersama yang diperjuangkan oleh seluruh komponen gerakan sipil. Berbagai kasus mulai terkuak di halaman depan koran-koran dan media cetak lainnya. Mulai dari pembunuhan, penghilangan secara paksa, penangkapan secara sewenang-wenang, penjarahan harta dan pembakaran rumah, sampai ke perkosaan dan kekerasan seksual lainnya terhadap perempuan.

Diantara sekian kasus hasil investigasi NGO, mahasiswa ataupun Tim Pencari Fakta yang dibentuk Pemda, Sumiati adalah salah satu dari  korban yang menjadi perhatian dan simpati banyak orang. Munculnya perhatian dari orang banyak, yang pertama karena masyarakat terkejut melihat  kebiadapan militer yang begitu tega memperkosa seorang perempuan cacat yang akhirnya sampai melahirkan seorang putri. Yang kedua, perhatian besar yang muncul justru karena masyarakat begitu  terpana ketika  dihadapkan dengan ketegaran hati seorang perempuan yang dengan ketabahan membeberkan cerita dukanya. Bagaimana pengalaman paling buruk telah  terjadi dan mengoyak kehidupannya yang damai. Ketabahan hati untuk mengulang cerita kepada berbagai pihak, agar seluruh kasusnya  terungkap, yang setiap bercerita secara otomatis akan kembali menoreh luka di hatinya.

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa relawan-relawan yang mendampingi juga punya peran penting. Tapi bahwa Sumi, dengan kekuatannya  yang tersembunyi di balik tubuhnya yang ringkih, telah menimbulkan decak kagum berbagai pihak. Saya begitu terharu dan bangga melihat ketabahannya yang luar biasa. Sulit melupakan sorot matanya yang polos ketika bercerita di sela-sela mendampingi anaknya yang harus dioperasi di RSU Zainal Abidin Banda Aceh tahun lalu. Kali ini kesabarannya masih diuji Tuhan dalam bentuk lain. Anak yang kini merupakan belahan jiwanya terancam penyakit yang lumanyan serius. Ia begitu menghawatirkan kondisi anaknya, tak sedikitpun rasa benci muncul terhadap bocah kecil yang mau tidak mau akan selalu mengingatkannya kepada peristiwa pahit sekian  tahun lalu.

Pada tahun berikutnya lagi-lagi berita tentang Sumiati menghiasi halaman media cetak. Bahwa kasusnya dijadikan sebagai salah satu kasus yang menjadi rekomendasi Tim Independen untuk diangkat ke Pengadilan Koneksitas membuat berita itu kembali mencuat. Tapi yang menarik bagi saya adalah kesediaan dan kerelaaan hati Sumi untuk mengizinkan dan bersedia bersaksi agar kasusnya diangkat ke pengadilan. Perasaan malu sudah tidak ada lagi dalam menghadapi kasus yang menimpa hidupnya, yang penting kebenaran dan keadilan dapat terungkap. Ketika banyak perempuan di beberapa daerah sulit untuk mengungkap pengalamannya yang paling pahit, Sumiati bangkit sebagai pendorong semangat yang lainnya. Agaknya kearifan Ratu Safiatuddin dan ketegaran Cut Nyak Dhin telah diwarisinya.

Saat ini lagi-lagi Sumati menjadi sorotan. Kali ini berita di koran-koran tidak tanggung-tanggung lagi, “Sumiati hilang”. Berita ini membuat _barangkali _ seluruh rakyat Aceh dan orang-orang yang peduli terhadap penegakan HAM menjadi cemas. Bahwa lagi-lagi pengalaman seperti Teugku Nas (Anggota DPRD) dan pelaku  (saksi kunci) kasus Teungku Bantakiah hilang. Apakah Sumiati juga akan mengalami nasib yang sama?. Berita itu juga membuat seluruh korban DOM/paska DOM lainnya menjadi sangat ketakukan, jangan-jangan kali ini merekalah yang jadi giliran berikutnya.

Kita memang bisa berlega hati karena ternyata Sumi tidak jadi hilang. Sumiati ditemukan dalam keadaan sehat walafiat. Ternyata “menghilang” nya Sumi ada alasan. Menurut beberapa sumber, Ia “dijemput” oleh sekelompok pasukan yang di BKO_kan untuk menjadi saksi dalam pengadilan militer di Medan. Pertanyaannya, kenapa harus pasukan tersebut yang menjemputnya? Kenapa bukan polisi penyidik? Memang ada mantan Kepala Desa dan adiknya yang ikut bersamanya, tetapi itu saja tidak cukup. Barangkali  para pengambil keputusan di pengadilan mengagap tidak perlu dampingan hukum (pengacara) buat Sumi. Toh sudah ada jaksa. Toh, Sumiati cuma saksi. Tapi yang dilupakan oleh pengadilan ini adalah bahwa Sumi sebagai manusia, Sumi sebagai rakyat, Sumi sebagai korban punya hak untuk didampingi oleh pengacara yang dipilihnya sendiri.

Barangkali pengacaranya tidak dapat mengambil keputusan / mempengaruhi keputusan sidang. Tetapi setidak-tidaknya ada seseorang yang dapat menjelaskan arti sebuah kalimat dari aspek bahasa hukum tersebut, sehingga Sumi memahami seluruh proses yang sedang terjadi padanya. Sumi juga butuh seorang konselor, minimal relawan yang selama ini mendampinginya. Kita juga tidak mengetahui, apakah mengadilan itu dilakukan hanya sekedar untuk “lips servis” saja supaya di peradilan koneksitas posisi pelaku menjadi lebih baik, atau supaya seolah-olah hukum sudah ditegakkan. Terlalu banyak masalah yang terjadi saat sekarang di Aceh, sehingga semakin sulit untuk membaca sesuatu.

Yang jelas Sumiati adalah salah satu dari korban, yang sampai saat ini belum mendapat keadilan dalam penegakan hukum. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan Sumiati-Sumiati yang lain, yang selama ini masih bungkam? Akankah keadilan mampu digapai mereka ? Merupakan tugas kita semualah untuk merealisasikan hal tersebut, terutama menjadi TUGAS NEGARA. Jangan pernah berhenti berjuang Sumi !!!!! Kami ada bersama Mu.

Banda Aceh, 28 Maret 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s